Sabtu, 19 Sep 2026 06:31 WIB

Yanto Laung : Bisnis alternatif di tengah krisis

Terbit Berita
Penulis / Reporter: Terbit Berita
⏱️ 2 menit baca
👁️ 0 kali dibaca
Bagikan: 💬 WhatsApp 📘 Facebook 𝕏 Post ✈️ Telegram
Tebang Benua, Karet, bakwan maupun getah, sebagai penyangga utama ekonomi rumah tangga mayoritas masyarakat Dayak di kecamatan Tayan, mengalami stagnasi harga selama beberapa tahun terakhir ini, bahkan cendrung menurun dalam beberapa bulan terakhir ini. Harga per tanggal 28 September 2019 di kios desa Tebang Benua adalah Rp. 5.700,-/kg. Bila dibandingkan komoditi industri, kita mengalami inflasi lokal yang sangat tinggi. Bandingkan untuk membeli 1 liter bensin, kita butuh 1,4 kg karet. 1 cangkir kopi di warung kita harus jual 0,96 kg karet. Bahkan bila dibandingkan dengan komodi lokal lain, seperti beras sebagai kebutuhan pokok tingkat pertama, untuk membeli 1 kg beras membutuhkan 2,1 kg karet.



Fakta di atas mencemaskan dan mengancam asa sebagaian besar rumah tangga yang menjadikan karet sebagai satu-satunya mata pencaharian mereka, karena masa jaya karet era tahun 2000-an awal cuma merupakan golden memories yang sulit terulang kembali mengingat semakin merosotnya penggunaan karet alam dunia dibandingkan dengan karet sintetetis, eksport karet Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia dan Vietnam di pasar global, tidak adanya kebijakkan industri hilir dalam tata kelola industri karet kita. Bahkan kehadiran pabrik karet NKP di Padu, Beginjan tetap tidak banyak menolong kenaikkan harga karet di kecamatan Tayan Hilir.




Pertama, barang yang dijual adalah produk lokal, maka hal ini akan memberikan dan menciptakan nilai tambah ekonomi atas sumber daya alam yang persediaannya cukup banyak di hutan. Contohnya rebung bisa tumbuh di mana-mana.

Kedua, tindakan menjual dan membeli adalah katalisator dalam menumbuhkan jiwa entrepeneurship dari masyarakat kita yang selama ini sejauh pengamatan saya adalah sebuah masyarakat yang konsumtif.
Ketiga, menciptakan pasar baru untuk menyalurkan hasil ladang dan kebun yang kadang tidak tahu harus dijual kemana, serta merangsang masyarakat untuk memamfaatkan tanahnya semaksimal mungkin untuk menanam komoditi yang bernilai jual.
Nara sumber Victorianus Yanto Laung


Eksplorasi konten lain dari Sanggau Informasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

✍️ Laporkan Kesalahan / Usulkan Koreksi Artikel

Menemukan kekeliruan fakta, penulisan, atau sumber pada artikel ini? Laporkan kepada tim redaksi kami:

Suka artikel ini? Bagikan kepada teman: 💬 WhatsApp 📘 Facebook 𝕏 Post ✈️ Telegram
Terbit Berita
DITULIS OLEH

Terbit Berita

Jurnalis Sanggauinformasi.com yang meliput berbagai informasi masyarakat, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, dan peristiwa di Kabupaten Sanggau.

Lihat semua artikel oleh Terbit Berita →
🏠 Home 📡 Radar 24H 📢 Iklan Baris